Lingkungan
dan orang-orang disekitar kita tanpa kita sadari telah mulai memprogram
pola pikir kita dari saat kita kecil. Tapi sayangnya banyak program
yang kurang baik masuk ke pola pikir kita. Rata-rata orang yang telah
berumur 18 tahun akan mendengarkan 148 ribu kali perkataan “Kamu tidak
akan sanggup” atau kata-kata lain yang memiliki makna bahwa kita tidak
bisa mencapai sesuatu. Jika Anda beruntung, maka Anda hanya mendengarkan
“Kamu tidak akan sanggup” sebanyak 10 ribu kali atau 50 ribu kali.
Di
sisi lain. Selama 18 tahun umur seseorang, seberapa sering Anda
mendengarkan apa yang bisa Anda lakukan atau apa yang bisa Anda gapai?
Seribu kali kah? Atau 10 ribu kali kah? Pada kebanyakan orang terjadi
ketimpangan jumlah antara kata “Kamu bisa” dan “Kamu tak bisa” yang
didengar olehnya. Kata “Kamu bisa” terlalu jarang didengar oleh
seseorang dibandingkan kata “Kamu tak bisa”. Ini membentuk pola pikir
kebanyakan dari kita adalah pola pikir yang cenderung negative.
Bahkan setelah berumur 18 tahun, kata “Kamu tak bisa” masih dominan kita dengar dibandingkan dengan kata “Kamu bisa”.
Kata-kata yang cenderung negative ini kebanyakan datang tanpa disengaja, baik dari keluarga, guru, sobat, teman kerja, iklan, media cetak, media elektronik, dll. Seorang peneliti prilaku berkata “kebanyakan pada manusia, 70 persen dari apa yang dia pikirkan adalah negative. Yang mensabotase kesuksesannya sendiri”. Sedangkan peneliti kesehatan berkata “Sebanyak 70 persen penyakit yang ada pada diri manusia muncul karena pola pikirnya sendiri”.
Kata-kata yang cenderung negative ini kebanyakan datang tanpa disengaja, baik dari keluarga, guru, sobat, teman kerja, iklan, media cetak, media elektronik, dll. Seorang peneliti prilaku berkata “kebanyakan pada manusia, 70 persen dari apa yang dia pikirkan adalah negative. Yang mensabotase kesuksesannya sendiri”. Sedangkan peneliti kesehatan berkata “Sebanyak 70 persen penyakit yang ada pada diri manusia muncul karena pola pikirnya sendiri”.
Kata-kata
yang cenderung negative yang datang tanpa disengaja, baik dari
keluarga, guru, sobat, teman kerja. Tanpa mereka sadari dan tanpa kita
sadari efeknya sangat berbahaya. Setelah bertahun-tahun kita
mendengarkan kata-kata negative yang sama, maka kata-kata tersebut akan
membentuk pola pikir kita. Kata tersebut akan terukir di pola pikir
kita. Kemudian kita mulai ikut-ikutan menggunakan kata-kata negative
yang sama pada diri kita sendiri. Pada akhirnya kita mulai percaya
dengan kata-kata negative yang diucapkan (baik oleh orang lain dan yang
diucapkan oleh diri kita sendiri). Kemudian kita akan mendengarkan
kata-kata negative yang sama (serta pemikiran negative yang sama)
berulang-ulang, seratus kali, bisa jadi seribu kali baik yang diucapkan
oleh orang lain atau oleh diri kita sendiri, bahwa “Kamu tidak akan bisa
…”. Pengulangan merupakan salah satu cara terampuh untuk membuat otak kita percaya.
Akhirnya kita percaya dengan kata-kata negative yang sering kali kita
dengar. Yang membuat kita hidup menggunakan pola pikir negative ini. Dan
Akhirnya kita menjadi apa yang dipercayai oleh pola pikir kita
tersebut.
Pola
pikir negative ini menjadi sebuah dinding pembatas yang tak terlihat
tetapi begitu kuat yang menghalangi kita mencapai impian-impian kita.
Selama kita tidak menghapus atau menulis ulang pola pikir negative yang
telah terbentuk, maka pola pikir ini akan selamanya ada pada diri kita,
dan akan mempengaruhi apapun yang kita lakukan dalam kehidupan.
"Kita menjadi seperti apa yang paling sering kita pikir."
Lalu
pertanyaannya, Jika bicara kepada diri sendiri itu penting untuk
memprogram pola pikir kita, Bagaimana cara terbaik bicara kepada diri
kita sendiri? Ada 4 tingkatan cara bicara kepada diri kita sendiri :
1.
Tingkatan paling rendah untuk bicara ke diri sendiri adalah ketika kita
menyatakan ke diri sendiri sesuatu yang bersifat negative, menyatakan
bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu, dan kita mempercayai pernyataan
tersebut. Kata-kata yang banyak diucapkan, antara lain : “Saya tidak
bisa …”. Atau “Saya tidak akan pernah bisa …”. Atau “Jika saja saya bisa
…”. Atau “Saya berharap saya bisa, tetapi saya tidak bisa …”. Contohnya
: “Saya tidak bisa menggambar”
2.
Pernyataan tingkat ke-2 ini seperti baik untuk kita, tetapi sebenarnya
dia buruk untuk kita. Pada tingkatan ke-2 ini, kita menyadari perlunya
perubahan. Kata-kata yang banyak diucapkan, antara lain : “Saya perlu …”
atau “Saya sebaiknya …”. Contohnya : “Saya seharusnya lebih disiplin”.
Ketika seseorang menyatakan seperti ini, berarti dia menyatakan bahwa
dirinya perlu lebih berdisiplin, dan saat ini dirinya tidak disiplin
(ini pernyataan negatif). Ini memperkuat pola pikir yang tidak disiplin,
dan menghalangi perubahan.
Mengapa
pernyataan tingkat ke-2 ini tidak baik kita ucapkan ke diri kita?
Karena pernyataan ini berhasil mengidentifikasi permasalahaan yang ada,
tetapi tidak menemukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
3.
Pernyataan tingkat ke-3 ini baik untuk diri kita. Pada tingkatan ke-3
ini kita memutuskan untuk berubah. Kata-kata yang banyak diucapkan,
antara lain : “Saya tidak akan pernah …” atau “Saya tidak lagi …”.
Contoh : “Saya tidak akan merokok lagi”. Jika saat ini orang tersebut
masih perokok. Dengan berkata seperti ini, orang tersebut mulai merubah
pola pikirnya untuk menjadi seseorang yang tidak merokok lagi. Dengan
rutin mengatakan “Saya tidak akan merokok lagi”, pikiran bawah sadar
pelan-pelan diubah untuk mempercayai bahwa dirinya tidak akan merokok
lagi.
4.
Pernyataan tingkat ke-4 merupakan penyataan yang paling baik dan
efektif ketika diucapkan kepada diri sendiri. Pada tingkatan ini kita
menyatakan seperti apa diri kita yang lebih baik dari sebelumnya. Kata
yang banyak diucapkan, antara lain : “Saya seorang …”. Yang
menggambarkan dirimu yang baru. Ini adalah pernyataan yang paling
efektif untuk perubahan. Dengan menyatakan bagaimana dirinya ingin
menjadi sesuatu yang lebih baik. Contoh : “Saya bukan perokok”. Dengan
menyatakan seperti ini berulang-ulang, seseorang memprogram pola
pikirnya untuk menjadi bukan perokok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar